Tiga sandera terakhir

Keterangan Bibliografi
Penerbit : Noura Books
Pengarang : Brahmanto Anindito
Kota terbit : Bandung
Tahun terbit : 2015
ISBN : 978-602-0989-47-1
Subyek : Fiksi Indonesia
Klasifikasi : 8X3 Bra t
Bahasa : Bahasa Indonesia
Edisi : cet. 1
Halaman : 309 hlm.; 21 cm
Status fiksi : Buku Fiksi
Lokasi : 800
Pustaka Pilihan :
Jenis Koleksi Pustaka

Novel

Abstraksi

Sebuah penyanderaan brutal terjadi di Papua. Korbannya lima turis berkewarganegaraan Indonesia, Australia dan Prancis. Semua telunjuk langsung menuding Organisasi Papua Merdeka (OPM). Namun, OPM sendiri ternyata menyangkalnya. Kata mereka, pihaknya sudah lama tidak menggunakan cara-cara seperti itu demi perjuangan kemerdekaan Papua Barat.

Apapun itu, TNI enggan berteka-teki terlalu lama. Satuan Antiteror Kopassus, Gultor, di bawah komando Kolonel Inf. Larung Nusa segera diturunkan ke bumi cenderawasih. Tetapi, malang tak bisa ditolak. Korban-korban malah bertumbangan, baik di pihak sandera maupun anggota Kopassus. Kolonel Nusa pun mulai menyadari bahwa lawannya bukan sekadar milisi OPM. Melainkan pasukan khusus, seperti dirinya.[2]

Masalah kemudian berkembang pelik. Lantaran operasi militer memakan banyak korban, Kolonel Nusa akhirnya diskors selama 10 hari oleh atasannya, Mayjen Abassia. Namun, sanksi ini sejatinya hanyalah pengalihan tugas bagi Nusa untuk memimpin satu unit "pasukan hantu". Untuk misi baru ini, dia ditemani Nona Gwijangge, Tafiaro Wenda, Witir Femmilio, dan Kresna Sonar.[3] Dengan keahlian masing-masing, mereka bahu-membahu dalam misi melacak dan mengeliminasi dalang yang sesungguhnya dari drama penyanderaan ini.

Inventaris
# Inventaris Dapat dipinjam Status Ada
1 0214/18/B/2024.c3 Ya
2 551/P1/2018.c1 Ya
3 552/P1/2018.c2 Ya